Entri Populer: Cemburu

Minggu, 23 Januari 2011

Bagaimana Penerapan Teori-teori Psikologi Sosial di Masyarakat?

PENERAPAN TEORI PSIKOLOGI SOSIAL
YUNITA HATIBIE

I.      Pendahuluan
Seorang anak kelas 2 Sekolah Dasar pulang ke rumah dan mengatakan kepada ibunya; “Ma, Ririn dapat nilai delapan diulangan matematika!” Diluar dugaan Ririn, ibunya tidak bergembira, malah menjawab; “Aaah, jika nilainya delapan ditunjukkan kemama. Coba kalau nilainya jelek pasti disembunyikan”.
Sedih sekali hati Ririn mendengar jawaban ibunya. Ririn tidak mengerti mengapa ibunya tidak bangga, malah menuduhnya. Dipihak lain, Ibunya Ririn tidak mengerti mengapa tiba-tiba Ririn dapat memperoleh nilai delapan sebab ibu Ririn sudah sering diundang guru anaknya karena nilai-nilai ulangan anaknya selalu jelek.
Saling ketidakmengertian antara Ririn dan ibunya tersebut merupakan salah satu perilaku yang dicoba untuk dipelajari dalam psikologi sosial.  Psikologi sosial mempelajari perilaku manusia dalam kaitanya dengan lingkungan sosialnya agar dapat diterangkan mengapa seseorang berperilaku secara tertentu dalam situasi sosial tertentu (misalnya, tentang hubungan antara Ririn dan ibunya), membuat peramalan-peramalan tentang kapan akan terjadinya perilaku tertentu itu dan bagaimana mengubah atau mempengaruhi perilaku itu sehingga dapat lebih sesuai dengan yang diharapkan dan mencapai keadaan yang lebih menyenangkan atau memuaskan untuk semua pihak (misalnya, hubungan yang lebih baik antara Ririn dan ibunya).
Jadi, psikologi sosial selain merupakan ilmu teoretik juga merupakan ilmu terapan. Bidang terapan psikologi sosial tidak hanya terbatas  pada hubungan antara dua orang saja namun mencakup berbagai perilaku sosial lainnya, seperti perilaku massa, perilaku menolong, dsb.
Oleh sebab itu, dengan mempelajari psikologi sosial maka manusia akan memahami dasar-dasar pengertian tentang gejala-gejala kejiwaan dan perilaku  individu dalam situasi sosial sehingga mempermudah dalam mendekati masyarakat untuk mengadakan perubahan-perubahan dan pengarahan kepada suatu tujuan yang sebaik-baiknya. Dengan bantuan psikologi sosial, manusia dapat memecahkan suatu problema sosial secara tepat secara sistematis.
Sejak tahun 1930, psikologi sosial merupakan pengetahuan yang berkembang pesat sehingga pokok-pokok dan hasil-hasil penelitiannya semakin meluas dan mendalam. Psikologi sosial juga merupakan suatu cabang ilmu pengetahuan psikologi yang membahas manusia sebagai anggota masyarakat, meninjau interaksi manusia dalam kelompok, bagaimana hubungan manusia satu dengan yang lainnya dalam kelompok tersebut, dsb.

II.    Pembahasan Penerapan Teori-Teori Psikologi Sosial
Orientasi Psikoanalisa
Psikoanalisis dikemukakan pertama kali oleh Sigmund Wred, memang merupakan teori yang kontroversial karena orientasinya sangat individual. Namun tidak dapat dipungkiri memiliki kaitan erat dalam psikologi sosial dan mampu menjelaskan beberapa gejala sosial yang mendasari sifat sosial budaya.
Menurut Freud dalam Sarwono (2002; 56), dasar perilaku manusia adalah insting yang bertempat dalam alam ketidaksadaran. Ketidaksadaran adalah ciri utama psikoanalisis.
Sigmund Freud bukanlah satu-satunya orang yang mengajukan pandangan psikoanalisis.  Tokoh-tokoh lain seperti Sullivan, Adler, Fromm dan Horney juga turut mengemukakan teori-teori yang dikenal sebagai neoanalitis.
Teori-teori yang yang akan dikemukakan dalam makalah ini semuanya berasal dari teori nonanalisis tersebut yakni:
1.        Bion (1948-1951) : Teori Psikodinamika Dari Fungsi Kelompok
Pandangan teori ini menyatakan kelompok ternyata bukan sekedar individu, merupakan suatu satuan dengan dinamika dan emosi tersendiri yang memiliki kebutuhan dan motif (id), Tujuan dan mekanisme (ego) dan keterbatasan (superego).
Contoh teori psikodinamika dari fungsi kelompok adalah naluri agresif pada para pejuang jihad yang didorong oleh id yang hanya merengek dan meminta terus agar mencari kesenangan agar hasrat-hasratnya selalu dipenuhi. Tetapi ego melihat realitas sebelum memenuhi permintaan id. Sebagai contoh pada pasukan jihad Pakistan yang mempertanyakan dalam diri mereka sendiri apakah pasukannya lebih kuat dari pihak musuh? Dsb dan akan mempertimbangkan super ego yang pada gilirannya selalu mempertimbangkan norma/nilai yang telah terserap dalam diri sendiri. seperti contoh jangan membunuh orang yang lemah. Dsb.
2.        Bennis & Sheppard (1956) : Teori Perkembangan Kelompok
Kedua ahli ini menguraikan proses pengembangan kelompok terjadi dalam interaksi antara individu yang berada dalam suatu situasi latihan (training) yang bertujuan untuk mengekspresikan motivasi individu dalam berinteraksi dengan individu lainnya sehingga mencapai kesepahaman situasi kelompok dalam suatu bentuk komunikasi yang valid.
Sebagai contoh, suatu perusahaan membangun gugus baru untuk menangani community development dalam rangka mengembangkan corporate social responsibility demi peningkatan citra perusahaan dimata publik sebagai suatu lembaga bisnis yang peduli terhadap problem masyarakat. Untuk mencapai tujuan tersebut, perusahaan mengambil beberapa staf yang diberi amanah menjalankan community development. Training pun dilakukan terhadap staff agar staf tersebut paham akan tugas yang diembannya,paham terhadap situasi kelompok, sehingga mereka mampu mengekspresikan dorongan-dorongannya untuk membangun suatu lembaga yang solid.
3.        Schutz (1955-1958) : Fundamental Interpersonal Relations Orientation
Pondasi orientasi hubungan antar pribadi ini mengemukakan bahwa setiap orang mengorientasikan dirinya pada orang lain dengan cara yang khas yang mempengaruhi hubungan antar pribadi.
Sebagai contohnya dalam hubungan teman sekelas. Sebenarnya seorang mahasiswa tidak setuju dengan perlakuan dari teman sekelasnya. Akan tetapi, ketidaksetujuan itu tidak ditampakkan karena dia berupaya agar hubungan dengan teman tetap harmonis.
4.        Sarnoff (1960) : Teori Sikap Sosial
Sarnoff dalam Suyono (2008; 32) mengemukakan bahwa sikap dapat berfungsi sebagai cara mempertahankan ego dari ancaman bahaya, baik yang datang dari luar maupun dari dalam dirinya. Sikap sosial dipengaruhi oleh motif berbentuk rangsang yang bias menimbulkan ketegangan. Proses ini akan membuat sikap menjadi selaras dengan motif tu bisa tidak selaras dengan motif. Sikap dapat berfungsi sebagai pertahanan ego dan memungkinkan rasionalisasi.
Sebagai contoh, seorang istri yang sebenarnya tidak setuju dengan berbagai perilaku suaminya yang terkadang membuat hatinya sakit. Sebenarnya motif terdalam dari dirinya ingin mengutarakan ketidaksetujuannya pada suami, tetapi demi menjaga keharmonisan rumah tangga dan tidak mau bertengkar dengan suaminya (rasionalisasi), dia seolah-olah setuju dengan segala tindakan yang dilakukan oleh suaminya. Sikap persetujuannya terhadap suaminya bertolak belakang dengan motif dalam dirinya yang sesungguhnya ingin protes pada suaminya.

Orientasi Lapangan
Sebutan lain dari orientasi lapangan adalah teori psikodinamika.  Tokoh yang mempeloporinya diantaranya adalah Kurt Lewin, Tolman (1932), Whler (1940), Lashley (1929) dan Brunswik (1949). Orientasi ini merupakan pengaruh dari psikologi gestalt yang berprinsip bahwa bagian atau elemen kejiwaan itu tidak berdiri sendiri, tetapi terorganisasikan dalam satu kesatuan yang bersifat konstruktif dan dinamis berdasarkan hubungan satu dengan yang lainnya.
Adapaun teori-teori yang dapat digunakan untuk menjelaskan situasi atau gejala sosial diantaranya adalah sbb:
1.    Teori hubungan interpersonal (Heider 1958)
Interaksi antara individu dengan individu yang lain yang dipengaruhi oleh berbagai elemen yang menyertainya yakni mengamati orang lain; orang lain sebagai pengamat; analisis tindakan sederhana; kausalitas personal dari interpersonal; hasrat; sentimen; keharusan dan nilai; permintaan dan perintah; keuntungan dan kerugian; serta pengalaman.
Sebagai contoh, Dalam gambar dibawah ini dapat dijelaskan adanya interaksi antara individu dengan individu yang lain.
2.    Teori kekuasaan sosial (French 1959)
Adanya saling mempengaruhi antar anggota satu kelompok sehingga terjadi keseimbangan semu yakni tergantung pengaruh sosial dari anggota yang berada dalam suatu kelompok. Orang yang memiliki pengaruh sosial yang kuat akan memiliki kekuasaan yang besar dalam suatu kelompok.
 Sebagai contoh, dalam gambar dibawah ini seorang kepala suku mampu mengumpulkan masyarakatnya untuk mengambil gambar dengan mahasiswa yang melaksanakan program turun lapangan.
3.    Teori kekuasaan  (Cartwirght 1951)
Kekuasaan berkaitan dengan kekuasaan sosial (yang dijabarkan sebagai kekuasaan yang dikaitkan dengan perilaku sosial), pelaku (yakni orang yang menjalani perilaku untuk melakukan tindakan kekuasaan), ruang (tempat yang berupa kedudukan dalam suatu organisasi), hubungan langsung (perpindahan dari satu kekuasaan kekekuasaan lain dalam suatu organisasi), dasar motif sebagai energi yang menggerakkan seseorang menggenggam kekuasaan, besaran (jumlah yang dimiliki oleh individu) dan waktu (sejauhmana dan berapa lama berlangsungnya suatu peristiwa yang berhubungan dengan kekuasaan tersebut. Sebagai contoh seseorang anggota partai yang terpilih menjadi pemimpin pemerintahan.
4.    Teori kerjasama dan persaingan (Deutsch 1949)
Teori ini digunakan untuk menganalisis suatu kelompok kecil apabila masing-masing anggota kelompok itu dapat menembus wilayah antar kelompok, dan persaingan akan terjadi apabila masing-masing kelompok tidak berhasil menembus wilayah antar kelompok. Sebagai contoh sekelompok mahasiswa yang mengunjungi suku Badui untuk mengadakan komunikasi dan penelitian.

Orientasi Faktor Penguat
Orientasi faktor penguat merupakan bagian dari aliran behaviorisme. Tokoh-tokohnya adalah J.B. Watson, L.P.Pavlov, dan E.L. Thorndike. Orientasi ini mengusung teori rangsang balas (stimulus respons theory) yang esensinya menjelaskan bahwa setiap tingkah laku memiliki hakekat tanggapan atau balasan terhadap rangsangan.
Adapun teori-teori dalam faktor penguat yang dapat dijadikan untuk menjelaskan gejala sosial adalah:
1.    Teori belajar sosial dan tiruan (Dollard & Miller)
Perilaku pada dasarnya merupakan hasil dari proses belajar atau dengan kata lain dapat dipelajari.  Dalam memahami perilaku manusia tersebut perlu mengetahui prinsip-prinsip belajar yakni dorongan; isyarat; tingkah laku balas; ganjaran; tingkah laku sama; tingkah laku tergantung; dan  tingkah laku salinan. Sebagai contoh tingkah laku yang ditunjukkan seorang pria pada temannya dalam gambar dibawah ini yang menunjukkan adanya stimulus dan respons.
2.    Teori proses pengganti (Bandura & walters)
Bandura dan Walters dalan Suyono (2008; 47) menjelaskan bahwa ada tiga macam pengaruh tingkah laku model pada tingkah laku peniru yakni efek modeling; menghambat (inhibition) dan menghapus hambatan disinhibition; dan efek kemudahan. Sebagai contoh Cara berpakaian yang digunakan oleh kedua pemuda dalam gambar dibawah ini merupakan tiruan akan cara berpakaian para orang tuanya dan masyarakat dilingkungannya.


3.    Teori jual beli dengan penguat sosial (Humans, Thibault & Kelly, Adams & Rommey)
Teori jual beli dengan penguat sosial terdiri atas teori tingkah laku sosial dasar; teori hasil interaksi; dan teori fungsional dari interaksi otoriter. Sebagai contoh, Hubungan dua orang bersaudara yang terjalin baik yang menghasilkan keuntungan bagi kedua belah pihak.

Orientasi Kognitif
Orientasi kognitif mempunyai konsep dasar yang mempelajari konsep, berpikir, dan membangun pengetahuan. Adapun teori-teori dalam orientasi kognitif adalah sebagai berikut:
1.    Teori kognitif (Krech & Crutchfiled)
Teori ini mengungkapkan bahwa tingkah laku manusia adalah aktif; dunia sosial digambarkan sebagai lingkungan yang dipersepsikan oleh orang bersangkutan; merupakan re-organisasi kognitif yang mencakup belajar, berpikir, pemecahan masalah, lupa dan perubahan psikologik; dan adanya perubahan struktur kognitif yang dipengaruhi oleh kapasitas biologi dari individu, prinsip-prinsip organisasi, kondisi yang menghasilkan struktur asli, kebutuhan dan emosi. Sebagai contoh dalam gambar dibawah ini terlihat jelas bagaimana manusia berinteraksi aktif dilingkungan sosialnya.
2.    Teori konsistensi kognitif (Heider, Newcomb, Tannembaum, Festinger)
Teori konsistensi kognitif berpijak pada kognisi yang berupa pengetahuan dan kesadaran yang tidak konsisten dengan kognisi-kognisi lain menimbulkan kondisi yang tidak menyenangkan sehingga menimbulkan tingkah laku untuk menyeimbangkan atau berusaha konsisten dengan kognisi.


Saat anda melihat gambar ini, dalam diri anda terjadi ketidakkonsistesan dengan pengetahuan anda. Anda berpikir, apakah pria ini dalam kesulitan dan membutuhkan pertolongan?. Untuk menyeimbangkan kognisi anda, maka anda mencoba mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi dengan pria ini melalui pengamatan. Ketika anda tahu bahwa pria ini tidak dalam kesulitan dan sengaja menyeberang sungai untuk mengawal kayu-kayu tersebut, maka dalam diri anda terjadi keseimbangan kognisi dan kondisi anda menjadi merasa nyaman.
Teori-teori transorientasional
Yang termasuk dalam teori ini adalah sebagai berikut:
1.        Teori perbandingan sosial (Festinger)
Teori ini menjelaskan bahwa proses saling mempengaruhi dan bersaing dalam interaksi sosial terjadi karena adanya kebutuhan menilai diri sendiri dengan membandingkan pada orang lain. Contoh dalam gambar dibawah ini menunjukan bagaimana ekspresi seseorang yang sedang melakukan penilaian dan perbandingan apakah penampilannya sudah pantas dalam berbusana dan berpenampilan dibandingkan dengan teman-teman akrabnya.

2.        Teori interferensi korespondensi  (Jones & David)
Teori ini berkaitan dengan penarikan kesimpulan yang diambil oleh pengamat yang berasal dari hasil pengamatannya terhadap orang lain.  Proses yang berlangsung dari inferensi korespondensi adalah pengamat mengawali pengamatan pada tindakan nyata yang dilakukan oleh orang lain. Selanjutnya, pengamat mengambil kesimpulan berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya dan menimbulkan intensi seseorang untuk berperilaku.
Seperti contoh dalam gambar dibawah ini, presenter telah melakukan pengamatan terhadap Ibu Sri. Berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya ternyata Ibu Sri memiliki kepribadian baik, ceria, dan santun. Berdasarkan hasil kesimpulan tersebut, presenter memiliki hasrat untuk mendekati Ibu Sri untuk dijadikan teman akrabnya.

3.        Teori atribusi eksternal (Kelly)
Seseorang dalam menganalisis objek yang ada diluar dirinya menggunakan sebanyak mungkin faktor dari lingkungan melalui diferensiasi atau distingsi; konsistensi dalam waktu; konsistensi dalam cara dan konsesus.
Sebagai contoh, seseorang yang suka menonton program televisi MTV dan tidak suka menonton program televisi lainnya. Jika dia memiliki waktu dia akan menonton program tersebut dimanapun dia berada dan ternyata bukan hanya dia sendiri yang menyukai program tersebut, tetapi orang lain pada umumnya juga menyukai program tersebut.
4.        Teori penilaian sosial (Sherif & Hovland)
Proses psikologi yang mendasari adanya sikap dan perubahan sikap dalam komunikasi. Dalam menilai seseorang atau objek digunakan diskriminasi atau kategorisasi yang didasarkan pada pengalaman internal individu tersebut sehingga menimbulkan efek yang dinamakan asimilasi yaitu suatu penilaian yang mendekati patokan dan efek lain yang dinamakan kontras yaitu penilaian yang menjauhi patokan
Sebagai contoh kampanye pemilihan presiden melalui iklan atau debat kandidat yang ditayangkan ditelevisi. Dengan demikian, pemilih mencari berbagai perbedaan yang menonjol (diskriminasi) dan mencari ciri-ciri yang terbaik (kategorisasi) diantara calon presiden berdasarkan pengetahuan atau pengalaman yang sudah dimiliki oleh calon pemilih. Apabila pemilih sudah menemukan perbedaan yang mencolok dan sudah mengkategorisasikan satu calon presiden yang dinilai terbaik, maka dia akan memiliki sifat positif terhadap calon presiden tersebut. Disamping itu, terjadi perubahan sikap dalam diri pemilih yang tidak suka menjadi suka pada calon presiden yang sudah dievaluasinya. Sikap positif itu merupakan sikap yang kuat dan cenderung sesuai dengan sikapnya saat pemilihan tiba.

III.   Penutup
Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan diatas, dapat dijelaskan dalam kajian penerapan psikologi sosial penerapan psikologi sosial bukan hanya mempelajari tentang perilaku manusia dan berusaha menjelaskan mengapa dan bagaimana suatu perilaku terjadi namun juga berusaha mengubah perilaku melalui intervensi psikologi, misalnya melalui penelitian psikologi, konseling, terapi, tes, dan bimbingan. Sehingga penerapan psikologi sosial tidak hanya membutuhkan ilmu pengetahuan tetapi juga keterampilan, sikap dan nilai-nilai tertentu (Gale & Chapman, dalam Sarwono (2001; 225)
Psikologi sosial juga merupakan suatu cabang ilmu pengetahuan psikologi yang membahas manusia sebagai anggota masyarakat, meninjau interaksi manusia dalam kelompok, bagaimana hubungan manusia satu dengan yang lainnya dalam kelompok tersebut, dsb.
Jadi, Psikologi sosial selain merupakan ilmu teoretik juga merupakan ilmu terapan. Bidang terapan psikologi sosial tidak hanya terbatas  pada hubungan antara dua orang saja namun mencakup berbagai perilaku sosial lainnya, seperti perilaku massa, perilaku menolong, dsb.
Dengan mempelajari psikologi sosial maka manusia akan memahami dasar-dasar pengertian tentang gejala-gejala kejiwaan dan perilaku  individu dalam situasi sosial sehingga mempermudah dalam mendekati masyarakat untuk mengadakan perubahan-perubahan dan pengarahan kepada suatu tujuan yang sebaik-baiknya.
Dengan bantuan psikologi sosial, manusia dapat memecahkan suatu problema sosial secara tepat secara sistematis.

Saran
Teruslah memperkaya dan belajar menggunakan teori psikologi sosial untuk menjelaskan perilaku individu yang berakibat terhadap situasi sosial atau situasi sosial yang berpengaruh pada individu. Keseriusan anda untuk terus meningkatkan kemampuan menggunakan teori psikologi sosial dalam menjelaskan problem-problem masyarakat, akan membuat pisau analisis anda semakin tajam saat mengamati persoalan-persoalan yang terjadi dilapangan.
Bagi teman-teman sekelas, jadikanlah ini menjadi suatu inspirasi dalam melaksanakan kegiatan penelitian kedepan.

DAFTAR PUSTAKA
Abu Ahmadi, Drs., H., 2007. Psikologi Sosial Jakarta: Rineka Cipta

Sarwono, W., S. 1987. Teori-Teori Psikologi Sosial. Jakarta: Rajawali Pers
…………………2002. Psikologi Sosial (Individu dan Teori-Teori Psikologi Sosial. Jakarta: Balai Pustaka
…………………2001. Psikologi Sosial (Psikologi Kelompok dan Psikologi Terapan)
                                       Jakarta: Balai Pustaka
Suyono, W.., S. 2008. Pengantar Psikologi Sosial I. Jogjakarta: Media Jogjakarta.


3 komentar:

  1. Seharusnya semua dosen baik yang masih menyandang S1,S2,S3 serta profesor mempelajari psikologi sosial. Karena saya ketika berinteraksi dengan beberapa dosen baik masih S1 maupun sudah profesor terkadang mereka itu ngomong, bertidak terkadang tidak mengenakkan hati. Dalam hati saya berpikir mereka in sama saja dengan preman jalanan yang tidak pernah mengecap pendidikan. Ini pengalaman saya selama saya keluar masuk UNG dalam berbagai urusan.

    BalasHapus
  2. Begitukah..??? Yang namanya karakter setiap manusia pastilah berbeda antara satu dan yang lainnya. Semoga saja kita tidak termasuk dalam golongan karakter yang seperti itu. Amin YRA..

    BalasHapus
  3. makasih bu referensinya sgat mmbntu ngerjain take home uas :)

    BalasHapus