Entri Populer: Cemburu

Minggu, 23 Januari 2011

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR DAN PENGUMPULAN DATA


PENDAHULUAN        
Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 Pasal 20, mengindikasikan bahwa guru diharapkan untuk dapat mengembangkan Bahan Ajar. Harapan ini kemudian dipertegas dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) nomor 41 tahun 2007 tentang Standar Proses yang antara lain mengatur tentang perencanaan proses pembelajaran yang mensyaratkan bagi pendidik pada satuan pendidikan untuk mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Adapun, salah satu elemen dalam RPP adalah sumber belajar. Oleh sebab itu, guru diharapkan untuk dapat mengembangkan Bahan Ajar sebagai salah satu  sumber belajar dan acuan pembelajaran.
Selain itu, pada lampiran Permendiknas nomor 16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, juga mengatur tentang berbagai kompetensi yang harus dimiliki oleh guru, baik yang bersifat kompetensi inti maupun kompetensi mata pelajaran baik dalam tuntutan kompetensi pedagogik maupun kompetensi profesional, berkaitan erat dengan kemampuan guru dalam mengembangkan sumber belajar dan Bahan Ajar dengan tujuan untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi sesuai dengan Standard Kompetensi Lulusan (SKL). Dengan demikian, diperlukan pengembangan pembelajaran untuk setiap kompetensi secara sistematis, terpadu, dan tuntas (mastery learning).
Untuk pembelajaran yang bertujuan mencapai kompetensi sesuai profil kemampuan tamatan pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) diperlukan kemampuan guru sebagai pelaksana pendidikan dan pengajaran didalam kelas untuk dapat mengembangkannya secara tepat. Dengan pendekatan belajar tuntas (mastery learning) diharapkan siswa dapat menguasai kompetensi-kompetensi secara utuh, sesuai dengan kecepatan belajarnya. Untuk itu bahan ajar hendaknya disusun agar siswa lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran mencapai  kompetensi.
Oleh sebab itu, pengembangan Bahan Ajar dan pengumpulan datanya sangat penting untuk dipelajari bagi guru maupun calon guru karena gurulah yang terlibat langsung dalam pengembangan bahan ajar dan juga sebagai fasilitator didalam kegiatan pembelajaran. Seorang guru juga sebaiknya perlu memahami cara atau prosedur dalam mengembangkan Bahan Ajar.
Bahan ajar merupakan bagian penting dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah.  Bahan ajar dapat dibuat dalam berbagai bentuk sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik Bahan ajar yang akan disajikan.  Melalui bahan ajar guru akan lebih mudah dalam melaksanakan pembelajaran dan siswa akan lebih terbantu dan mudah dalam belajar. 
Dengan demikian dalam kesempatan ini, kelompok kami akan membahas mengenai pengembangan bahan ajar dan pengumpulan data.

PEMBAHASAN
A.   Pengembangan Bahan Ajar
Pengertian Bahan Ajar
Bahan ajar merupakan segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/instruktor dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis. Adapun, Bahan ajar atau teaching-material, terdiri atas dua kata yaitu teaching atau mengajar dan material atau bahan.   
Menurut University of Wollongong NSW 2522, AUSTRALIA  pada website-nya, WebPage last updated: August 1998, Teaching is defined as the process of creating and sustaining an effective environment for learning.
Melaksanakan pembelajaran diartikan sebagai proses menciptakan dan mempertahankan suatu lingkungan belajar yang efektif.
Sementara itu, Paul S. Ache lebih lanjut mengemukakan tentang material yaitu: Books can be used as reference material, or they can be used as paper weights, but they cannot teach. Buku dapat digunakan sebagai bahan rujukan, atau dapat digunakan sebagai bahan tertulis yang berbobot.
Dalam website Dikmenjur dikemukakan pengertian bahwa, bahan ajar merupakan seperangkat materi/substansi pembelajaran (teaching material) yang disusun secara sistematis, menampilkan sosok utuh dari kompetensi yang akan dikuasai siswa dalam kegiatan pembelajaran. Dengan bahan ajar memungkinkan siswa dapat mempelajari suatu kompetensi atau KD secara runtut dan sistematis sehingga secara akumulatif mampu menguasai semua kompetensi secara utuh dan terpadu.
Lebih lanjut disebutkan bahwa bahan ajar berfungsi sebagai:
a.    Pedoman bagi Guru yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam proses pembelajaran, sekaligus merupakan substansi kompetensi yang seharusnya diajarkan kepada siswa.
b.    Pedoman bagi Siswa yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam proses pembelajaran, sekaligus merupakan substansi kompetensi yang seharusnya dipelajari/dikuasainya.
c.    Bahan evaluasi pencapaian/penguasaan hasil pembelajaran.
Pendapat lain mengatakan sebagai berikut; “They are the information, equipment and text for instructors that are required for planning and review  upon training implementation. Text and training equipment are included in the teaching material. (Anonim dalam Web-site).
Bahan ajar merupakan informasi, alat dan teks yang diperlukan guru/instruktor untuk perencanaan dan penelaahan implementasi pembelajaran.
Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/instruktor dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas.  Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis. (National Center for Vocational Education Research Ltd/National Center for Competency Based Training).
Adapun, pengelompokan bahan ajar menurut Faculté de Psychologie et des Sciences de l’Education Université de Genève dalam website adalah sebagai berikut :
Integrated media-written, audiovisual, electronic, and interactive-appears in all their programs under the name of Medienverbund or Mediamix (Feren Universitaet and Open University respectively).
http://tecfa.unige.ch/tecfa/general/tecfapeople/peraya.html>http:// tecfa.unige.ch/tecfa/general/tecfa-people/peraya.html, Faculté de Psychologie et des Sciences de l’Education Université de Genève.

Media tulis, audio visual, elektronik, dan interaktif  terintegrasi  yang kemudian disebut sebagai medienverbund (bahasa jerman yang berarti media terintegrasi) atau mediamix. 
Sedangkan Bernd Weidenmann, 1994 dalam buku Lernen mit Bildmedien mengelompokkan menjadi tiga besar, pertama auditiv yang menyangkut radio (Rundfunk), kaset (Tonkassette), piringan hitam (Schallplatte).  Kedua yaitu visual (visuell) yang menyangkut Flipchart, gambar (Wandbild), film bisu (Stummfilm), video bisu (Stummvideo), program komputer (Computer-Lernprogramm), bahan tertulis dengan dan tanpa gambar (Lerntext, mit und ohne Abbildung).  Ketiga yaitu audio visual (audiovisuell) yang menyangkut berbicara dengan gambar (Rede mit Bild), pertunjukan suara dan gambar (Tonbildschau),dan film/video.
Dari berbagai pendapat di atas dapat diasumsikan bahwa bahan ajar adalah merupakan seperangkat materi yang disusun secara sistematis sehingga tercipta lingkungan/suasana yang memungkinkan siswa untuk belajar.  
Sebuah bahan ajar paling tidak mencakup antara lain: Petunjuk belajar (Petunjuk siswa/guru); Kompetensi yang akan dicapai; Content atau isi  materi pembelajaran; Informasi pendukung; Latihan-latihan; Petunjuk kerja, dapat berupa Lembar Kerja (LK); Evaluasi; Respon atau balikan terhadap hasil evaluasi

Prinsip Pengembangan Bahan Ajar
Pengembangan bahan ajar hendaklah memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran. Di antara prinsip pembelajaran tersebut adalah:
1. Mulai dari yang mudah untuk memahami yang sulit, dari yang kongkret untuk memahami yang abstrak,
Siswa akan lebih mudah memahami suatu konsep tertentu apabila penjelasan dimulai dari yang mudah atau sesuatu yang kongkret, sesuatu yang nyata ada di lingkungan mereka. Misalnya untuk menjelaskan konsep pasar, maka mulailah siswa diajak untuk berbicara tentang pasar yang terdapat di tempat mereka tinggal. Setelah itu, kita bisa membawa mereka untuk berbicara tentang berbagai jenis pasar lainnya.
2.  Pengulangan akan memperkuat pemahaman
Dalam pembelajaran, pengulangan sangat diperlukan agar siswa lebih memahami suatu konsep. Dalam prinsip ini kita sering mendengar pepatah yang mengatakan bahwa 5 x 2 lebih baik daripada 2 x 5. Artinya, walaupun maksudnya sama, sesuatu informasi yang diulang-ulang, akan lebih berbekas pada ingatan siswa. Namun pengulangan dalam penulisan bahan belajar harus disajikan secara tepat dan bervariasi sehingga tidak membosankan.
3. Umpan balik positif akan memberikan penguatan terhadap pemahaman siswa
Seringkali kita menganggap enteng dengan memberikan respond yang sekedarnya atas hasil kerja siswa. Padahal respond yang diberikan oleh guru terhadap siswa akan menjadi penguatan pada diri siswa. Perkataan seorang guru seperti ’ya benar’ atau ‚’ya kamu pintar’ atau,’itu benar, namun akan lebih baik kalau begini...’ akan menimbulkan kepercayaan diri pada siswa bahwa ia telah menjawab atau mengerjakan sesuatu dengan benar. Sebaliknya, respond negatif akan mematahkan semangat siswa. Untuk itu, jangan lupa berikan umpan balik yang positif terhadap hasil kerja siswa.
4. Motivasi belajar yang tinggi merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan belajar
Seorang siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi akan lebih berhasil dalam belajar. Untuk itu, maka salah satu tugas guru dalam melaksanakan pembelajaran adalah memberikan dorongan (motivasi) agar siswa mau belajar. Banyak cara untuk memberikan motivasi, antara lain dengan memberikan pujian, memberikan harapan, menjelas tujuan dan manfaat, memberi contoh, ataupun menceritakan sesuatu yang membuat siswa senang belajar, dll.
5.  Mencapai tujuan ibarat naik tangga, setahap demi setahap, akhirnya akan mencapai ketinggian tertentu.
Pembelajaran adalah suatu proses yang bertahap dan berkelanjutan. Untuk mencapai suatu standard kompetensi yang tinggi, perlu dibuatkan tujuan-tujuan antara. Ibarat anak tangga, semakin lebar anak tangga semakin sulit kita melangkah, namun juga anak tangga yang terlalu kecil terlampau mudah melewatinya. Untuk itu, maka guru perlu menyusun anak tangga tujuan pembelajaran secara pas, sesuai dengan karakteristik siswa. Dalam bahan ajar, anak tangga tersebut dirumuskan dalam bentuk indikator-indikator kompetensi.
6. Mengetahui hasil yang telah dicapai akan mendorong siswa untuk terus mencapai tujuan
Ibarat menempuh perjalanan jauh, untuk mencapai kota yang dituju, sepanjang perjalanan kita akan melewati kota-kota lain. Kita akan senang apabila pemandu perjalanan kita memberitahukan setiap kota yang dilewati, sehingga kita menjadi tahu sudah sampai di mana dan berapa jauh lagi kita akan berjalan. Demikian pula dalam proses pembelajaran, guru ibarat pemandu perjalanan. Pemandu perjalanan yang baik, akan memberitahukan kota tujuan akhir yang ingin dicapai, bagaimana cara mencapainya, kota-kota apa saja yang akan dilewati, dan memberitahukan pula sudah sampai di mana dan berapa jauh lagi perjalanan. Dengan demikian, semua peserta dapat mencapai kota tujuan dengan selamat. Dalam pembelajaran, setiap anak akan mencapai tujuan tersebut dengan kecepatannya sendiri, namun mereka semua akan sampai kepada tujuan meskipun dengan waktu yang berbeda-beda. Inilah sebagian dari prinsip belajar tuntas.

Jenis Bahan Ajar
Berdasarkan teknologi yang digunakan, bahan ajar dapat dikelompokkan menjadi empat kategori, yaitu bahan cetak (printed) seperti antara lain handout, buku, modul, lembar kerja siswa, brosur, leaflet, wallchart, foto/gambar, model/maket.  Bahan ajar dengar (audio) seperti kaset, radio, piringan hitam, dan compact disk audio. Bahan ajar pandang dengar (audio visual) seperti  video compact disk, film.  Bahan ajar multimedia interaktif (interactive teaching material)  seperti CAI (Computer Assisted Instruction), compact disk (CD) multimedia pembelajarn interaktif, dan bahan ajar berbasis web (web based learning materials).
Dalam kesempatan ini, kami hanya akan menjelaskan mengenai bahan ajar cetak. Bahan cetak dapat ditampilkan dalam berbagai bentuk.  Jika bahan ajar cetak tersusun secara baik maka bahan ajar akan mendatangkan beberapa keuntungan seperti yang dikemukakan oleh Steffen Peter Ballstaedt, 1994 yaitu:
a.    Bahan tertulis biasanya menampilkan daftar isi, sehingga memudahkan bagi seorang guru untuk menunjukkan kepada peserta didik bagian mana yang sedang dipelajari
b.    Biaya untuk pengadaannya relatif sedikit
c.    Bahan tertulis cepat digunakan dan dapat dipindah-pindah secara mudah
d.    Susunannya menawarkan kemudahan secara luas dan kreativitas bagi individu
e.    Bahan tertulis relatif ringan dan dapat dibaca di mana saja
f.     Bahan ajar yang baik akan dapat memotivasi pembaca untuk melakukan aktivitas, seperti menandai, mencatat, membuat sketsa
g.    Bahan tertulis dapat dinikmati sebagai sebuah dokumen yang bernilai besar
h.    Pembaca dapat mengatur tempo secara mandiri
Kita mengenal berbagai jenis bahan ajar cetak, antara lain hand out, buku, modul, poster, brosur, dan leaflet.
a.    Handout
Handout adalah bahan tertulis yang disiapkan oleh seorang guru untuk memperkaya pengetahuan peserta didik.  Menurut kamus Oxford hal 389, handout is prepared statement given. Handout adalah pernyataan yang telah disiapkan oleh pembicara.
Handout biasanya diambilkan dari beberapa literatur yang memiliki relevansi dengan materi yang diajarkan/ KD dan materi pokok yang harus dikuasai oleh peserta didik.  Saat ini handout dapat diperoleh dengan berbagai cara, antara lain dengan cara down-load dari internet, atau menyadur dari sebuah buku. 
b.    Buku
Buku adalah bahan tertulis yang menyajikan ilmu pengetahuan buah pikiran dari pengarangnya. Oleh pengarangnya isi buku didapat dari berbagai cara misalnya: hasil penelitian, hasil pengamatan, aktualisasi pengalaman, otobiografi, atau hasil imajinasi seseorang yang disebut sebagai fiksi.   Menurut kamus oxford hal 94, buku diartikan sebagai: Book is number of sheet of paper, either printed or blank, fastened  together in a cover. Buku adalah sejumlah lembaran kertas baik cetakan maupun kosong yang dijilid dan diberi kulit. Buku sebagai bahan ajar merupakan  buku yang berisi suatu ilmu pengetahuan hasil analisis terhadap kurikulum dalam bentuk tertulis.
Buku yang baik adalah buku yang ditulis dengan menggunakan bahasa yang baik dan mudah dimengerti, disajikan secara menarik dilengkapi dengan gambar dan keterangan-keterangannya, isi buku juga menggambarkan sesuatu yang sesuai dengan ide penulisannya.  Buku pelajaran berisi tentang ilmu pengetahuan yang dapat digunakan oleh peserta didik untuk belajar, buku fiksi akan berisi tentang fikiran-fikiran fiksi si penulis, dan seterusnya.


c.    Modul
Modul adalah sebuah buku yang ditulis dengan tujuan agar peserta didik dapat belajar secara mandiri tanpa atau dengan bimbingan guru, sehingga modul berisi paling tidak tentang:
·         Petunjuk belajar (Petunjuk siswa/guru)
·         Kompetensi yang akan dicapai
·         Content atau isi materi
·         Informasi pendukung
·         Latihan-latihan
·         Petunjuk kerja, dapat berupa Lembar Kerja (LK)
·         Evaluasi
·         Balikan terhadap hasil evaluasi
Sebuah modul akan bermakna kalau peserta didik dapat dengan mudah menggunakannya. Pembelajaran dengan modul memungkinkan seorang peserta didik yang memiliki kecepatan tinggi dalam belajar akan lebih cepat menyelesaikan satu atau lebih KD dibandingkan dengan peserta didik lainnya.  Dengan demikian maka modul harus menggambarkan KD yang akan dicapai oleh peserta didik, disajikan dengan menggunakan bahasa yang baik, menarik, dilengkapi dengan ilustrasi.


d.    Lembar kegiatan siswa
Lembar kegiatan siswa (student worksheet) adalah lembaran-lembaran berisi tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik.  Lembar kegiatan biasanya berupa petunjuk, langkah-langkah untuk menyelesaikan suatu tugas.  Suatu tugas yang diperintahkan dalam lembar kegiatan harus jelas KD yang akan dicapainya. Lembar kegiatan dapat digunakan untuk mata pembelajaran apa saja. Tugas-tugas sebuah lembar kegiatan tidak akan dapat dikerjakan oleh peserta didik secara baik apabila tidak dilengkapi dengan buku lain atau referensi lain yang terkait dengan materi tugasnya.   Tugas-tugas yang diberikan kepada peserta didik dapat berupa  teoritis dan atau tugas-tugas praktis. Tugas teoritis misalnya tugas membaca sebuah artikel tertentu, kemudian membuat resume untuk dipresentasikan.  Sedangkan tugas praktis dapat berupa kerja laboratorium atau kerja lapangan, misalnya survey tentang harga cabe dalam kurun waktu tertentu di suatu tempat. 
Keuntungan adanya lembar kegiatan adalah bagi guru, memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran, bagi siswa akan belajar secara mandiri dan belajar memahami dan menjalankan suatu tugas tertulis. 
Dalam menyiapkannya guru harus cermat dan memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai, karena sebuah lembar kerja harus memenuhi paling tidak kriteria yang berkaitan dengan tercapai/ tidaknya sebuah KD dikuasai oleh peserta didik.
e.        Brosur
Brosur adalah bahan informasi tertulis mengenai suatu masalah yang disusun secara bersistem atau cetakan yang hanya terdiri atas beberapa halaman dan dilipat tanpa dijilid atau selebaran cetakan yang berisi keterangan singkat tetapi lengkap tentang perusahaan atau organisasi (Kamus besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua, Balai Pustaka, 1996).   Dengan demikian, maka brosur dapat dimanfaatkan sebagai bahan ajar, selama sajian brosur diturunkan dari KD yang harus dikuasai oleh siswa. Mungkin saja brosur dapat menjadi bahan ajar yang menarik, karena bentuknya yang menarik dan praktis. Agar lembaran brosur tidak terlalu banyak, maka brosur didesain hanya memuat satu KD saja.  Ilustrasi dalam sebuah brosur akan menambah menarik minat peserta didik untuk menggunakannya.
f. Leaflet
A separate sheet of printed matter, often folded but not stitched (Webster’s New World, 1996) Leaflet adalah bahan cetak tertulis berupa lembaran yang dilipat tapi tidak dimatikan/dijahit.  Agar terlihat menarik biasanya leaflet didesain secara cermat dilengkapi dengan ilustrasi dan menggunakan bahasa yang sederhana, singkat serta mudah dipahami.   Leaflet sebagai bahan ajar juga harus memuat materi yang dapat menggiring peserta didik untuk menguasai satu atau lebih KD. 
  1. Wallchart
Wallchart adalah bahan cetak, biasanya berupa bagan siklus/proses atau  grafik yang bermakna menunjukkan posisi tertentu.  Agar wallchart terlihat lebih menarik bagi siswa maupun guru, maka wallchart didesain dengan menggunakan tata warna dan pengaturan proporsi yang baik. Wallchart biasanya masuk dalam kategori alat bantu melaksanakan pembelajaran, namun dalam hal ini wallchart didesain sebagai bahan ajar.  Karena didesain sebagai bahan ajar, maka wallchart harus memenuhi kriteria sebagai bahan ajar antara lain bahwa memiliki kejelasan tentang KD dan materi pokok yang harus dikuasai oleh peserta didik, diajarkan untuk berapa lama, dan bagaimana cara menggunakannya. Sebagai  contoh wallchart tentang siklus makhluk hidup binatang antara ular, tikus dan lingkungannya.
h.            Foto/Gambar
Foto/gambar memiliki makna yang lebih baik dibandingkan dengan tulisan. Foto/gambar sebagai bahan ajar tentu saja diperlukan satu rancangan yang baik agar setelah selesai melihat sebuah atau serangkaian foto/gambar siswa dapat melakukan sesuatu yang pada akhirnya menguasai satu atau lebih KD. 
Menurut Weidenmann dalam buku Lehren mit Bildmedien menggambarkan bahwa melihat sebuah foto/gambar lebih tinggi maknanya dari pada membaca atau mendengar. Melalui membaca yang dapat diingat hanya 10%, dari mendengar yang diingat 20%, dan dari melihat yang diingat 30%.  Foto/gambar yang didesain secara baik dapat memberikan pemahaman yang lebih baik. Bahan ajar ini dalam menggunakannya harus dibantu dengan bahan tertulis. Bahan tertulis dapat berupa petunjuk cara menggunakannya dan atau bahan tes.
Sebuah gambar yang bermakna paling tidak memiliki kriteria sebagai berikut:
·         Gambar harus mengandung sesuatu yang dapat dilihat dan penuh dengan informasi/data. Sehingga gambar tidak hanya sekedar gambar yang tidak mengandung arti atau tidak ada yang dapat dipelajari.
·         Gambar bermakna dan dapat dimengerti. Sehingga, si pembaca gambar benar-benar mengerti, tidak salah pengertian.
·         Lengkap, rasional untuk digunakan dalam proses pembelajaran, bahannya diambil dari sumber yang benar. Sehingga jangan sampai gambar miskin informasi yang berakibat penggunanya tidak belajar apa-apa.


B.   Pengumpulan Data
Prinsip-Prinsip Pengumpulan Data dalam Pengembangan Bahan Ajar
Prinsip-prinsip yang dijadikan dasar dalam pengumpulan data agar dapat menentukan Bahan Ajar adalah kesesuaian (relevansi), keajegan (konsistensi), dan kecukupan (adequacy).
1.    Relevansi artinya kesesuaian. Bahan pembelajaran hendaknya relevan dengan pencapaian standar kompetensi dan pencapaian kompetensi dasar. Jika kemampuan yang diharapkan dikuasai peserta didik berupa menghafal kosa-kata, maka Bahan pembelajaran yang diajarkan harus berupa kosa-kata, bukan konsep tata bahasa atau prinsip dalam menyusun kalimat.  Misalnya: kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik adalah ”Mengenal Binatang-binatang disekitar rumah” (Bahasa Inggris Dasar untuk Anak-anak) maka pemilihan Bahan Ajar yang disampaikan seharusnya ”Binatang-Binatang di Sekitar Rumah”, bukan tata bahasa Inggris.
2.    Konsistensi artinya keajegan. Jika kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik ada empat macam, maka Bahan yang harus diajarkan juga harus meliputi empat macam. Misalnya kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik adalah Binatang yang meliputi Binatang Mamalia, Binatang Air, Binatang Melata, dan Burung.
3.    Adequacy artinya kecukupan. Bahan yang diajarkan hendaknya cukup memadai dalam membantu peserta didik menguasai kompetensi dasar yang diajarkan. Bahan tidak boleh terlalu sedikit, dan tidak boleh terlalu banyak. Jika terlalu sedikit maka kurang membantu tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar. Sebaliknya, jika terlalu banyak maka akan mengakibatkan keterlambatan dalam pencapaian target kurikulum (pencapaian keseluruhan SK dan KD).
Adapun dalam pengembangan Bahan pembelajaran guru harus mampu mengidentifikasi Bahan Pembelajaran melalui pengumpulan data dengan mempertimbangkan hal-hal di bawah ini:
1.    Potensi peserta didik;
Potensi peserta didik dapat diketahui melalui pengumpulan data didalam kelas. Jika guru ingin mengetahui type Bahasa Inggris apa yang diperlukan oleh pembelajaran siswa-siswa untuk suatu tingkatan pembukuan. Akan memungkinkan membangun suatu kumpulan buku-buku siswa yang mungkin dapat dibaca, ditambah mata kuliah yang dibutuhkan mereka untuk hadir. dan kemudian menganalisis akumulasi data. Dengan demikian, hal ini akan membantu guru untuk mengidentifikasi kebutuhan siswa dan mengidentifikasi apa Bahan apa saja yang perlu dikembangkan dalam pengembangan bahan ajar.
2.    Relevansi dengan karakteristik daerah;
3.    Tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual peserta didik;
4.    Kebermanfaatan bagi peserta didik;
5.    Struktur keilmuan;
6.    Aktualitas, kedalaman, dan keluasan Bahan pembelajaran;
7.    Relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan; dan
8.    Alokasi waktu.

Pengumpulan Data dalam menentukan Cakupan dan Urutan Bahan Pembelajaran
Dalam menentukan cakupan atau ruang lingkup Bahan pembelajaran harus memperhatikan apakah Bahannya berupa aspek kognitif (fakta, konsep, prinsip, prosedur) aspek afektif, ataukah aspek psikomotor,  karena ketika sudah diimplementasikan dalam proses pembelajaran maka tiap-tiap jenis uraian Bahan tersebut memerlukan strategi dan media pembelajaran yang berbeda-beda.
Selain memperhatikan jenis Bahan juga harus memperhatikan prinsip-prinsip yang perlu digunakan dalam menentukan cakupan Bahan pembelajaran yang menyangkut keluasan dan kedalaman Bahannya.
Keluasan cakupan Bahan berarti menggambarkan seberapa banyak Bahan-Bahan yang dimasukkan ke dalam suatu Bahan pembelajaran.
Kedalaman Bahan menyangkut rincian konsep-konsep yang terkandung di dalamnya yang harus dipelajari oleh peserta didik. Sebagai contoh, jenis kalimat dapat diajarkan di SD, SMP dan SMA, juga di perguruan tinggi, namun keluasan dan kedalaman pada setiap jenjang pendidikan tersebut akan berbeda-beda. Semakin tinggi jenjang pendidikan akan semakin luas cakupan materi jenis kalimat yang dipelajari dan semakin detail pula setiap aspek yang dipelajari. Di SD dan SMP jenis kalimat disinggung sedikit. Di SMA jenis kalimat mulai dipelajari dan di perguruan tinggi jenis kalimatnya semakin diperdalam.
a.    Kecukupan atau memadainya cakupan Bahan juga perlu diperhatikan. Memadainya cakupan aspek Bahan dari suatu Bahan pembelajaran akan sangat membantu tercapainya penguasaan kompetensi dasar yang telah ditentukan.
Cakupan atau ruang lingkup Bahan perlu ditentukan untuk mengetahui apakah Bahan yang akan diajarkan terlalu banyak, terlalu sedikit, atau telah memadai sehingga terjadi kesesuaian dengan kompetensi dasar yang ingin dicapai. Misalnya dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas XI, salah satu kompetensi dasar yang harus dicapai peserta didik adalah " Menulis surat dagang dan surat kuasa". Setelah diidentifikasi, ternyata Bahan pembelajaran untuk mencapai kemampuan tersebut termasuk jenis prosedur. Jika kita analisis, secara garis besar cakupan Bahan yang harus dipelajari peserta didik agar mampu membuat Surat Dagang sekurang-kurangnya meliputi: (1) jenis surat  niaga, (2) jenis perjanjian jual beli dan surat kuasa,  (3) menulis surat perjanjian  jual –  beli dan surat kuasa sesuai dengan  keperluan , (4)  surat perjanjian jual – beli  dan surat berdasarkan struktur kalimat dan EYD.

Pengumpulan Data untuk Menentukan Urutan  Bahan  Pembelajaran
Urutan penyajian berguna untuk menentukan urutan proses pembelajaran. Tanpa urutan yang tepat, jika di antara beberapa Bahan  pembelajaran  mempunyai hubungan yang bersifat prasyarat (prerequisite) akan menyulitkan peserta didik dalam mempelajarinya. Misalnya,  jenis kalimat, dan style. Peserta didik akan mengalami kesulitan mempelajari style jika jenis kalimat belum dipelajari.
Bahan pembelajaran yang sudah ditentukan ruang lingkup serta kedalamannya dapat diurutkan melalui dua pendekatan pokok, yaitu: pendekatan prosedural dan hierarkis.



a.    Pendekatan prosedural.
Urutan Bahan pembelajaran secara prosedural menggambarkan langkah-langkah secara urut sesuai dengan langkah-langkah melaksanakan suatu tugas. Misalnya langkah-langkah: dalam menuliskan suatu paragraf dalam suatu wacana, dll.
Contoh : Urutan Prosedural  (tatacara)
Pada mata pelajaran Bahasa Inggris, peserta didik harus mencapai kompetensi dasar ”menggunakan jenis kalimat pada suatu wacana”.  Agar peserta didik berhasil mencapainya, harus melakukan langkah-langkah berurutan mulai dari cara menyusun kalimat sampai mengetes keberhasilannya.

b.    Pendekatan hierarkis
Urutan Bahan pembelajaran secara hierarkis menggambarkan urutan yang bersifat berjenjang dari bawah ke atas atau dari atas ke bawah. Bahan sebelumnya harus dipelajari dahulu sebagai prasyarat untuk mempelajari Bahan berikutnya.

Penentuan Sumber Data untuk Penyusunan Bahan Ajar  
Berbagai sumber belajar dapat digunakan untuk mendukung  Bahan pembelajaran  tertentu. Penentuan tersebut harus tetap mengacu pada setiap standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah ditetapkan.
Beberapa jenis sumber belajar antara lain:
1.      buku
2.      laporan hasil penelitian
3.      jurnal (penerbitan hasil penelitian  dan pemikiran ilmiah)
4.      majalah ilmiah
5.      kajian pakar bidang studi
6.      karya profesional
7.      buku kurikulum
8.      terbitan berkala seperti harian, mingguan, dan bulanan
9.      situs-situs Internet
10.   multimedia (TV, Video, VCD, kaset audio, dsb)
11.   lingkungan (alam, sosial, seni budaya, teknik, industri, ekonomi)
12.   narasumber

Perlu diingat bahwa tidaklah tepat jika seorang guru hanya bergantung pada satu jenis sumber sebagai satu-satunya sumber belajar. Sumber Belajar adalah rujukan, artinya dari berbagai sumber belajar tersebut seorang guru harus melakukan analisis dan mengumpulkan Bahan yang sesuai untuk dikembangkan dalam bentuk bahan ajar.
Di samping itu, kegiatan pembelajaran bukanlah usaha mengkhatamkan (menyelesaikan) keseluruhan isi suatu buku, tetapi membantu peserta didik mencapai kompetensi. Karena itu, hendaknya guru menggunakan sumber belajar maupun Bahan Ajar secara bervariasi, untuk pengembangan bahan ajar dapat berpedoman dengan panduan pengembangan bahan ajar yang diterbitkan oleh Direktorat Pembinaan SMA.

Teori Pengumpulan Data dalam Pengembangan Bahan Ajar
Seorang guru biasanya terlibat dalam beberapa tingkatan utama dalam mendesain dan melaksanakan pembelajaran bahasa. Dalam hal ini, guru berperan dalam melaksanakan Pra Pembelajaran, Penyampaian Informasi, mengaktifkan siswa, memberikan kegiatan lanjutan, Pretest/Posttest, dll. Selain itu, guru juga berperan dalam memilih dan inisiasi/Bahan Pembelajaran Bahasa, mengadaptasi mengadaptasi Bahan Ajar yang tersedia, sesuai dengan tujuan pembelajaran.  Hal ini mungkinkan bagi seorang guru untuk dapat menjalankan peranan lebih dalam proses pembelajaran bahasa.
Adopsi Bahan Ajar  (Bahanals Evaluation)
Langkah berikutnya dalam Pengembangan Bahan Ajar adalah menentukan (mengevaluasi) apakah ada Bahan Ajar yang sudah tersedia yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Evaluasi Bahan Ajar ini dimaksudkan untuk mengadopsi Bahan Ajar yang cocok yang akan kita pakai dalam proses pembelajaran. Dalam beberapa situasi kita dapat menemukan banyak sekali Bahan Ajar yang tersedia, baik yang bersifat umum maupun yang khusus. Sebaliknya, sedikit sekali dari Bahan Ajar itu yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan kita lakukan.
Tujuan pembelajaran dapat menjadi acuan dalam memutuskan apakah Bahan Ajar yang tersedia sesuai dengannya atau apakah Bahan Ajar itu perlu diadaptasi sebelum digunakan.
Bahan Ajar dapat dievaluasi untuk menentukan apakah (1) unsur motivasi cukup terasa dalam bahan tersebut, (2) isinya sesuai, (3) urutannya benar, (4) semua informasi yang dibutuhkan tersedia, (5) latihan soal tersedia, (6) mengandung umpan balik yang memadai, (7) test yang cocok disediakan, (8) arah tindak lanjut diberikan dengan cukup, (9) panduan diberikan secara memadai.
Penutup
Kesimpulan dan Saran
Guru sebagai salah satu pelaksana pendidikan secara langsung dalam pembelajaran diharapkan mampu untuk dapat mengumpulkan berbagai data dalam pengembangan Bahan Ajar.
Bahan ajar adalah merupakan seperangkat materi yang disusun secara sistematis sehingga tercipta lingkungan/suasana yang memungkinkan siswa untuk belajar.  
Prinsip Pengembangan Bahan Ajar
1. Mulai dari yang mudah untuk memahami yang sulit, dari yang kongkret untuk memahami yang abstrak,
2.  Pengulangan akan memperkuat pemahaman
3. Umpan balik positif akan memberikan penguatan terhadap pemahaman siswa
4. Motivasi belajar yang tinggi merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan belajar
5.  Mencapai tujuan ibarat naik tangga, setahap demi setahap, akhirnya akan mencapai ketinggian tertentu.
6. Mengetahui hasil yang telah dicapai akan mendorong siswa untuk terus mencapai tujuan
Jenis Bahan Ajar
Bahan ajar dapat dikelompokkan menjadi empat kategori, yaitu bahan cetak, Bahan ajar dengar, Bahan ajar pandang, Bahan ajar multimedia interaktif. Kita mengenal berbagai jenis bahan ajar cetak, antara lain hand out, buku, modul, poster, brosur, dan leaflet.
Prinsip-prinsip yang dijadikan dasar dalam pengumpulan data agar dapat menentukan Bahan Ajar adalah kesesuaian (relevansi), keajegan (konsistensi), dan kecukupan (adequacy).
Adapun dalam pengembangan Bahan pembelajaran guru harus mampu mengidentifikasi Bahan Pembelajaran melalui pengumpulan data dengan mempertimbangkan hal-hal di bawah ini:
1.      Potensi peserta didik;
2.      Relevansi dengan karakteristik daerah;
3.      Tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual peserta didik;
4.      Kebermanfaatan bagi peserta didik;
5.      Struktur keilmuan;
6.      Aktualitas, kedalaman, dan keluasan Bahan pembelajaran;
7.      Relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan; dan
8.      Alokasi waktu.
Bahan pembelajaran yang sudah ditentukan ruang lingkup serta kedalamannya dapat diurutkan melalui dua pendekatan pokok, yaitu: pendekatan prosedural dan hierarkis.
             Berbagai sumber belajar dapat digunakan untuk mendukung  Bahan pembelajaran  tertentu. Penentuan tersebut harus tetap mengacu pada setiap standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah ditetapkan.
Beberapa jenis sumber belajar antara lain: buku, laporan hasil penelitian, jurnal (penerbitan hasil penelitian  dan pemikiran ilmiah), majalah ilmiah, kajian pakar bidang studi, karya profesional, buku kurikulum, terbitan berkala seperti harian, mingguan, dan bulanan, situs-situs Internet, multimedia (TV, Video, VCD, kaset audio, dsb), lingkungan (alam, sosial, seni budaya, teknik, industri, ekonomi), narasumber.
Seorang guru biasanya terlibat dalam beberapa tingkatan utama dalam mendesain dan melaksanakan pembelajaran bahasa. Dalam hal ini, guru berperan dalam melaksanakan Pra Pembelajaran, Penyampaian Informasi, mengaktifkan siswa, memberikan kegiatan lanjutan, Pretest/Posttest, dll. Selain itu, guru juga berperan dalam memilih dan inisiasi/Bahan Pembelajaran Bahasa, mengadaptasi mengadaptasi Bahan Ajar yang tersedia, sesuai dengan tujuan pembelajaran.  Hal ini mungkinkan bagi seorang guru untuk dapat menjalankan peranan lebih dalam proses pembelajaran bahasa.
Langkah berikutnya dalam Pengembangan Bahan Ajar adalah menentukan (mengevaluasi) apakah ada Bahan Ajar yang sudah tersedia yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Evaluasi Bahan Ajar ini dimaksudkan untuk mengadopsi Bahan Ajar yang cocok yang akan kita pakai dalam proses pembelajaran. Dalam beberapa situasi kita dapat menemukan banyak sekali Bahan Ajar yang tersedia, baik yang bersifat umum maupun yang khusus. Sebaliknya, sedikit sekali dari Bahan Ajar itu yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan kita lakukan.

Daftar Pustaka
John V. Dempsey    Trends and Issues in Instructional Design and
2007                  Technology, New Jersey, Pearson Education
Mulyasa, E                Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Bandung; Remaja 2006          Rosdakarya
Richards, Jack C.     Curriculum Development in Language Teaching, USA: 2001             Cambidge Universiy Press
Roblyer, M.D             Integrating Educational Technology into Teaching, New 2004                        Jersey; Pearson Education
Tomlinson, B                        Materials Development in Language Teaching, USA; 1998       Cambridge University Press
Williams & Norgate  The Aims of Education, England; Mentor Book
         1929





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar